Minggu pagi (11/09/'11) seperti hari yang lain, berselancar di dunia maya, baik itu baca-baca artikel atau komen-komenan di jejaring sosial ditemani secangkir kopi pake' susu tentunya, begitulah rutinitas bersama mentari di pelataran. Setalah jari2 n mata terasa lelah, lanjut mandi pagi ben tambah seger.
Lanjut manasin tunggangan tuk survei sebentar ke pasar tradisional. Woooww, saya menemukan hal berbeda survei hari Minggu ini, pengunjung pasar (pembeli) terlihat lebih ramai dari pagi sampai siang hari (kira2 pukul 10 pagi), demikian cerita salah satu pedagang kepada penulis. Ya tentunya penghasilan pedagang lebih dari hari biasanya. Setelah survei selesai saya bergegas pulang untuk agenda selanjutnya.
Kali ini menenui sahabat aktivis yang selama ini menemani diskusi banyak hal. Setelah ketemu di Base Camp, mencoba mobilisasi sahabat yang lain agar suasana tambah rame. Datanglah sahabat (wartawan) yang pernah ketemu tahun 2009 lalu, jadilah suasana lebih menarik, share dinamika dunia akademis, isu2 kontemporer dan tentunya romantime.
Siang hari yang menguras tenaga, peluh bercucuran, panasnya betul-betul menyengat, padahal berada dalam ruang tamu sambil nonton tv hasil pertandingan sepak bola. Sahabat yang lain juga berdatangan, agenda awalnya ke Gramedia di alihkan makan-makan bersama (wisata kuliner). Sambil ngobrol ngalor-ngidul berbagi informasi dan pengalaman, ternyata saya sangat buta ditempat kelahiranku sendiri.
Makan2 selesai lanjut ke Gramedia yang sempat tertunda, sekalian ketemuan sahabat yang pernah kuliah di Bandung. Bertambah lagi jumlah sahabat baru. Puji Tuhan. Mantab betul sore itu, ngobrol santai diselingi isu-isu yang agak berat isi diskusinya. Sungguh menarik isi diskusi tersebut, walau saya sendiri tak begitu tertarik memikirkan hal-hal berat sejak lima bulan lalu. Mencoba beralih sejenak dari dunia pemikiran.hehe
Menikmati es krim rasa coklat, menambah senja tambah menarik. Diluar gedung dunia sudah gelap, tenaga pun terkuras habis muter-muter Gramedia nyari buku pemikiran dan novel. Tak sia-sia agenda nyari buku, menemukan buku yang sudah langka beredar. Pukul 19:00 WIB harus pulang karena sudah sangat lelah.
Dalam perjalanan pulang, piuuuuuh jalan macet hampir 1 KM, putar kepala tuk nyari jalur alternatif agar selamat dari kemacetan dan gak ngabisin usia di jalan. Akhirnya menemukan jalan yang gak kosong dan bisa tuk kecepatan tinggi. Rancu betul lalu lintas di kota ini, gak ada yang tertib mengikuti rambu lalu lintas. Maunya seenaknya sendiri. Pos polisi hanya dijadikan tempat nongkrong oleh yang bertugas. Hanya bisa berharap, kedepan bisa lebih tertib dari keadaan sekarang (saya berniat menulis terkait amburadulnya lalu lintas di kota kelahiranku).
Catatan ini tak semua dapat saya rekam, masih banyak yang tercecer di jalan. Cuma ini yang bisa diabadikan, dan ini pun hanya mengisi waktu agar tidak larut dalam kesepian..hehe
