Senin, 12 September 2011

CERITAKU DI HARI MINGGU

Minggu pagi (11/09/'11) seperti hari yang lain, berselancar di dunia maya, baik itu baca-baca artikel atau komen-komenan di jejaring sosial ditemani secangkir kopi pake' susu tentunya, begitulah rutinitas bersama mentari di pelataran. Setalah jari2 n mata terasa lelah, lanjut mandi pagi ben tambah seger.

Lanjut manasin tunggangan tuk survei sebentar ke pasar tradisional. Woooww, saya menemukan hal berbeda survei hari Minggu ini, pengunjung pasar (pembeli) terlihat lebih ramai dari pagi sampai siang hari (kira2 pukul 10 pagi), demikian cerita salah satu pedagang kepada penulis. Ya tentunya penghasilan pedagang lebih dari hari biasanya. Setelah survei selesai saya bergegas pulang untuk agenda selanjutnya.

Kali ini menenui sahabat aktivis yang selama ini menemani diskusi banyak hal. Setelah ketemu di Base Camp, mencoba mobilisasi sahabat yang lain agar suasana tambah rame. Datanglah sahabat (wartawan) yang pernah ketemu tahun 2009 lalu, jadilah suasana lebih menarik, share dinamika dunia akademis, isu2 kontemporer dan tentunya romantime.
Siang hari yang menguras tenaga, peluh bercucuran, panasnya betul-betul menyengat, padahal berada dalam ruang tamu sambil nonton tv hasil pertandingan sepak bola. Sahabat yang lain juga berdatangan, agenda awalnya ke Gramedia di alihkan makan-makan bersama (wisata kuliner). Sambil ngobrol ngalor-ngidul berbagi informasi dan pengalaman, ternyata saya sangat buta ditempat kelahiranku sendiri.

Makan2 selesai lanjut ke Gramedia yang sempat tertunda, sekalian ketemuan sahabat yang pernah kuliah di Bandung. Bertambah lagi jumlah sahabat baru. Puji Tuhan. Mantab betul sore itu, ngobrol santai diselingi isu-isu yang agak berat isi diskusinya. Sungguh menarik isi diskusi tersebut, walau saya sendiri tak begitu tertarik memikirkan hal-hal berat sejak lima bulan lalu. Mencoba beralih sejenak dari dunia pemikiran.hehe
Menikmati es krim rasa coklat, menambah senja tambah menarik. Diluar gedung dunia sudah gelap, tenaga pun terkuras habis muter-muter Gramedia nyari buku pemikiran dan novel. Tak sia-sia agenda nyari buku, menemukan buku yang sudah langka beredar. Pukul 19:00 WIB harus pulang karena sudah sangat lelah.

Dalam perjalanan pulang, piuuuuuh jalan macet hampir 1 KM, putar kepala tuk nyari jalur alternatif agar selamat dari kemacetan dan gak ngabisin usia di jalan. Akhirnya menemukan jalan yang gak kosong dan bisa tuk kecepatan tinggi. Rancu betul lalu lintas di kota ini, gak ada yang tertib mengikuti rambu lalu lintas. Maunya seenaknya sendiri. Pos polisi hanya dijadikan tempat nongkrong oleh yang bertugas. Hanya bisa berharap, kedepan bisa lebih tertib dari keadaan sekarang (saya berniat menulis terkait amburadulnya lalu lintas di kota kelahiranku).
Catatan ini tak semua dapat saya rekam, masih banyak yang tercecer di jalan. Cuma ini yang bisa diabadikan, dan ini pun hanya mengisi waktu agar tidak larut dalam kesepian..hehe

Kamis, 16 Juni 2011

AKU ‘HANYA KORBAN’

Seperti biasanya saat hari mulai gelap, duduk anteng didepan tv nonton berita dan film komedi religi bersama teman2. Lagi asyik2nya nonton Hp_ku berdering ada sms masuk, isinya ngajak nongkrong, makan2 dan yang diluar dugaanku,  aku dikatakan sedang ultah. Sungguh keterlaluan yang nyebar sms ini, inilah bentuk ‘teror’ yang seharusnya mendapat hukuman, yaitu Hp-nya dibanting atau pelakunya dijewer sampe’ berdarah-darah..he.99X

            Ntah apa yang melintas di kepala mereka, kok bisa2nya punya ide untuk “mengeksekusi” teman sendiri. Ya beginilah hidup bersama, selalu ada saja yang iseng, baik itu menyenangkan atau_pun tidak. Kadang kenangan indah bersama sahabat itu muncul dari hal2 yang sedih, sengsara, dan menyakitkan. Dan tentunya selalu dikenang selama hayat masih dikandung badan. Mungkin inilah keindahan bersama sahabat. Seperti sebuah pernytaan yang menaarik bahwa, “sahabat itu seperti bintang, walau jauh dia tetap ada”, betul gak? he.99X

Tapi, tetaplah aku hanya korban teman2 yang iseng. Jarang2 mereka ngajak nongkrong di kedai, malam itu secara kolektif dan sangat kompak, betul2 jadi korban. Untung saja tidak ikut semua, klo saja ikut semua, piuuuuuh megang kepala dech.haha

Semoga semua terkenang indah dan jarak tak menjadikan alasan untuk tetap terjalin komunikasi secara intens walau untuk bertukar informasi.Tq

Jumat, 27 Mei 2011

MASALAH

Bangun dari tidur bergegas mandi pagi untuk meluncur ke kampus. Tak seperti biasanya, kali ini brangkat lebih awal. Tiba di kampus langsung menuju ruangan yang dituju untuk menyerahkan naskah. Ternyata pintu masih tertutup rapat, belum ada yang datang. Sambil menunggu dan mengisi waktu, baca koran deket perpus. Jarum jam terus berputar, akhirnya ketemu juga dengan yang dicari. Sedikit terobati penantian ini.

Setelah naskah diserahkan, persyaratan dan tanda tangan di isi, beres sudah urusan.   Selesai urusan, tinggal langkah selanjutnya. Disini masalah mulai muncul, ribet, rancu? so pasti. Selain harus mengikuti prosedur, di lempar sana-sini, semua telah dipenuhi, di tunda lagi. Terkadang, "harapan tidak sesuai dengan realitas yang dihadapi".

Itulah sekelumit kisah hidup berhadapan dengan birokrasi. Seperti apa rumitnya harus dihadapi. Yang ingin penulis sampaikan dalan tulisan ini, perlunya kita menghadapi masalah dengan arif dan rasional, agar hasilnya baik. Masalah itu bagian dari desain hidup yang sengaja direkayasa Tuhan dalam menguji kualitas hamba-Nya. Begitu yang biasa kita dengar. Diakui atau tidak, adanya masalah yang mampir dalam hidup kita, menjadikan kita lebih kreatif dan produktif. Dengan masalah yang kita alami, kita akan belajar untuk langkah-langkah berikutnya. Dengan masalah kita dapat mengukur sejauh mana kemampuan kita menyelesaikannya.

Bukankah Tuhan itu menguji seseorang sesuai dengan kemampuannya? Penyikapan terhadap suatu masalah yang melibatkan kepentingan orang banyak juga harus melalui musyawarah (diskusi), supaya hasilnya memuskan semua pihak. Jangan sampai dalam menyikapi masalah dengan penuh emosi, karena hasilnya sangat tidak baik. Hal ini bisa kita lihat masalah yang terjadi akhir-akhhir ini, kekerasan menjadi 'cara' dalam menyelesaikan masalah. Sungguh biadab bukan, sampai saudara sendiri tersakiti karena lebih mendahulukan ego dan emosi dalam menyikapi masalah.
Akhir tulisan ini, penulis ingin menegaskan, sejak manusia diciptakan sudah bermasalah. Jadi, jangan pernah takut menghadapi masalah. Karena selama manusia masih bisa bernafas, masalah akan tetap mampir dengan varian beabeda. Penulis kutip pernyataan Prof. Dr. Musa Asy'ari, "semua masalah itu sesunggunya berpangkal pada diri sendiri. Manusia adalah pusat segala masalah, hidup menghadapi masalah dan matipun merupakan masalah. Makin banyak dan makin besar masalah yang dapat diselesaikannya, maka akan makin besar pula kualitas dirinya". Sekian, semoga manfaat…!!!

Ditulis 23 Maret 2011 jam 23:53

Kamis, 26 Mei 2011

Liburan Hari Kejepit

Selasa, 17 Mei 2011

Mengisi liburan plus makan2 di pantai Depok, melepas senja di pasar Gabusan Bantul.

 Mantab ikannya. Isap jempol dech yang lihat. :D